
Sekilas Globalisasi dan Neoliberalisme
Pada tulisan ini saya diminta untuk menulis tentang mendekonsruksi peran dan posisi pemuda dan mahasiswa pada masa kini yang diserbu oleh paham neoliberalisme. Dari judul itu saya jadi bertanya, mengapa harus melakukan dekonstruksi, ada apa dengan peran dan posisi orang muda. Mematuhi judul yang disodorkan itu sayapun mulai mencoret-coret tulisan ini dengan harapan dapat kita diskusikan bersama-sama. Menambahkan judul tersebut selain mendekonstruksi saya kira kita juga perlu mengkonstruksikan peran dan posisi yang relevan pada saat ini.
Langsung kepada pokok persoalan orang muda dan mahasiswa, dapat dikemukakan disini bahwa Remaja dan Pemuda di seluruh dunia saat ini menjalani hidup dalam era globalisasi. Apa artinya globalisasi itu bagi remaja dan pemuda adalah sebuah pertanyaan penting, terlebih bagi orang muda dan remaja kristen. Globalisasi itu bekerja sedemikian rupa dalam kehidupan remaja dan pemuda kristen Indonesia. Globalisasi yang berasal dari kata globe atau dunia, menunjuk pada suatu persatuan dan kesatuan dunia dalam segala bidang. Tiada lagi pembatas antar sukubangsa, negara, agama, kebudayaan dan lain-lain.
Globalisasi itu sendiri bukan berwajah baik atau buruk, yang perlu kita cari jalan keluar sekarang ini adalah bagaimana mengatasi rasa sakit Globalisasi. Pemuda dan Mahasiswa idealnya mampu mempelopori gerakan mengurangi rasa sakit Globalisasi ekonomi dalam kuasa neoliberalisme.
Pemahaman terhadap globalisasi akan menjadi lebih mudah bila dipandang dalam bidang ilmu ekonomi dan akan menjadi lebih myda bila kita menghubungkannya dengan Kapitalisme. Sewaktu kita membicarakan tentang Kapitalisme dengan otomatis kita mengkaitkannya dengan Karl Mark, ia merupakan pribadi yang menghabiskan seluruh hidupnya mengkaji dan menekuni tentang kapitalisme dan modal[2]. Globalisasi ekonomi itu digagas oleh kaum neoliberal dengan pelaku utamanya IMF, Worl Bank dan WTO.
Dekade ini merupakan dekade dimana sektor finansial memegang kekuasaan tertinggi. Mereka yang berkiprah di wall street menghasilkan jutaan dolar, kadang miliaran, dengan menggolkan berbagai transaksi, menggalang pembiyaan untuk memulai suatu bisnis. Orang muda Amerika yang paling pintar dan paling cerdas ingin bergabung dalam kegairahan ini. [3]
Posisi dan Peran Pemuda 1990 an sampai 2000 an
Semestinya dari dulu kita paham apa itu kapitalisme, lantaran kita pada masa Soeharto dilarang membaca “buku haram” tentang Kapitalisme yang ditulis oleh Marx, maka pengetahuan tentang kapitalisme menjadi terbatas kalau tidak mau disebutkan kosong dan bodoh.[4] Berkaitan dengan kekangan masa orde baru, Saya jadi ingat pula pada masa kuliah dulu setiap kali membuat proposal kegiatan senat mahasiswa mestilah dicantumkan landasan idiil dan landasan strulturil, kalau tidak dicantumkan biasanya ditolak dan ujung-ujungnya tidak dapat dana.
Berhitung singkat saja, tersebutlah pada masa itu tahun 90 an Gerakan Mahasiswa mulai rajin berdiskusi yang nyerempet “demokrasi” dan puncaknya adalah pada masa 1998 yang disebut sebagai masa reformasi. Untunglah jaman sudah berubah, pembicaraan bukan lagi mengejar kebebebasan mimbar akademik, menghapus NKK BKK dan kebebasan kampus. Sekarang dalam derajat tertentu mahasiswa dan pemuda boleh bicara dan berdemontrasi. Kemudian memasuki tahun 2000 an Gerakan Mahasiswa dan Pemuda masih enak-enak saja memakai corak gerakan tahun 1990 an. Pertanyaan yang mengemuka masihkah relevan kita mahasiswa melakukan gerakan demonstrasi. Tampaknya mahasiswa dan pemuda masih sulit menghilangkan semangat kepahlawanannya. Prilaku seperti itu bukanlah salah tetapi berdemonstrasi sangat membuang energi, biasanya mahasiswa jadi bahan cemoohan dan omelan para pengguna jalan yang terganggu kenyamanannya.
Mahasiswa dan Pemuda masa kini cenderung berposisi sebagai kelompok penekan (pressure goup) dan berposisi ingin menjadi pahlawan seperti tahun 1998. Sikap seperti itu adalah meromantisir secara berlebihan peristiwa masa lalu. Semangat Kepahlawanan akan menjadi pahlawan kesiangan apabila tidak disertai penguatan visi dan misi yang relevan pada jamannya.
Dari Gerakan Demonstrasi menuju Gerakan Pemikiran dan Gerakan Transformasi
Pada masa 1990 sampai 2000 an demonstrasi masih marak di berbagai tempat. Pada masa itu mahasiswa dan pemuda menyebutkan dirinya sebagai Gerakan Moral. Sedangkan pada mahasiswa yang lain gerakan mahasiswa menyebutkan dirinya sebagai gerakan Politik.
Mahasiswa menjadi pecah dan terkadang pragmatis. Tidak menjadi rahasia umum lagi mahasiswa dibayar untuk berdemonstrasi.
Sebelum terlalu jauh meneropong peranan mahasiswa di luar kampus-- walaupun klise-- sebaiknya kita mesti ingat bahwa tugas utama mahasiswa dan pemuda adalah belajar di sekolah/kampus.
Peranan sosial mahasiswa dan pemuda di masyarakat, kurang lebih sama dengan peran warga yang lainnnya di masyarakat. Mahasiswa mendapat tempat istimewa karena mereka dianggap kaum intelektual yang sedang menempuh pendidikan. Pada saatnya nanti sewaktu mahasiswa lulus kuliah, ia akan mencari kerja dan menempuh kehidupan yang relatif sama dengan warga yang lain.
Bisakah mahasiswa beranjak menuju gerakan pemikiran dan gerakan transformasi?
Mari kita coba dan berjuang!! Dasar Pemikiran neoliberalisme “pasar adalah tuan dan negara adalah pelayan” salah satu contoh yang paling baru mengenai kekalahan negara/pemerintah terhadap pasar adalah harga minyak yang naik.
Paradigma pasar menguhah cara berpikir dan persepsi ma¬syarakat. Dominasi kapitalisme memutarbalikkan hubungan an¬tara masyarakat (sosial) dan Pasar (ekonomi) (Polanyi, 1957).
Pada awal beroperasinya ka¬pitalisme, pasar merupakan ba¬gian dari masyarakat. Operasio¬naliasi norma-norma pasar ber¬akar dan dibatasi norma sosial, kultural, dan politik. Masyarakat merupakan pemegang kunci da¬lam hubungan sosial dan ekconomi. Tapi ketika kapitalisme mendominasi, keberadaan pasar telah berbalik 180 derajat, ma¬syarakatlah yang menjadi bagian dari pasar. kehidupan sehari-hari pun direduksi menjadi bisnis dan pasar.[5]
Dampak langsung yang bisa dirasakan semenjak kenaikan BBM tahun 2005 antara lain terjadi inflasi, daya beli masyarakat menurun, kesehatan masyarakat menurun (kekurangan gizi), angka anak putus sekolah (drop out), angka kematian anak, pengangguran dan kemiskinan meningkat, sehingga munculnya kerentanan sosial.
Keadaan di atas dapat mengakibatkan kemungkinan terjadinya generasi yang hilang (the lost generation) ungkapan yang telah nyaris menjadi klise, jika persoalan anak dan orang muda tidak dapat diatasi dengan baik khususnya di sektor Gizi dan kesehatan serta pendidikan, maka kita akan kehilangan sebuah generasi, yang menjadi pertanyaan apakah benar bahwasanya satu generasi yang akan hilang ? kehilangan generasi mempunyai implikasi yang luas mereka mungkin tidak akan mampu menyisakan pendapatannya untuk memperbaiki kesejahteraanya sendiri hingga lingkaran setan pun terjadi karena Gizi yang rendah, prestasi sekolah yang pas-pasan, kemungkinan anak akan drop- out dan harus mempertahan kan hidup dan pengangguran.
Secara tak sadar namun perlahan tapi pasti, para generasi muda dihinggapi dengan idiologi baru dan perilaku umum yang mendidik mereka menjadi bermental instan dan bermental bos. Pemuda menjadi malas bekerja dan malas mengatasi kesulitan, hambatan dan proses pembelajaran tidak diutamakan sehingga etos kerja jadi lemah.
Sarana tempat hiburan tumbuh pesat bak “jamur di musim hujan” arena billyard, playstation, atau arena hiburan ketangkasan lainnya, hanyalah tempat bagi anak-anak dan generasi muda membuang waktu secara percuma karena menarik perhatian dan waktu mereka yang semestinya diisi dengan lebih banyak untuk belajar, membaca buku di perpustakaan, berorganisasi atau mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih positif. Peran pemuda yang seperti ini adalah peran sebagai konsumen saja, pemuda dan mahasiswa berperan sebagai “penikmat” bukan yang berkontemplasi (pencipta karya). Dapat ditambahkan disini persoalan NARKOBA yang dominan terjadi di kalangan generasi muda yang memunculkan kehancuran besar bagi bangsa Indonesia.
Sudah 60 tahun lebih bangsa Indonesia merdeka, sistem pendidikan telah dibaharui agar mampu menjawab berbagai perubahan diseputaran kehidupan umat manusia. Tetapi selesai kuliah barisan penganggur berderet-deret. Para penganggur dan setengah penganggur yang tinggi merupakan pemborosan-pemborosan sumber daya, mereka menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan yang dapat mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal dan penghambat pembangunan dalam jangka panjang.
Posisi dan Peran
Kembali pada pokok persoalan, posisi dan peran apa dan yang mana dari mahasiswa dan pemuda yang harus didekonstruksi. Posisi yang dimainkan oleh orang muda dan mahasiswa dapat berarti negatif, semisal menjadi pelayan penguasa, broker politik, pragmatis, organisasi “dijual” demi sejumlah uang tertentu. Demikian juga dengan peran mahasiswa/pemuda dapat juga bermakna negatif. Mahasiswa/pemuda yang “membisu” dengan masalah Aids, Pemiskinan, dll sekitar lingkungannya adalah mahasiswa yang berperan melanggengkan masalah sosial tersebut menggurita.
Dari kenyataan di atas terlihat bahwa tanggung jawab dan peran yang diberikan kepada mahasiswa dan pemuda terkadang melebihi kemampuan normal seorang pemuda dan mahasiswa. Sebuah lirik lagu dituliskan “mahasiswa dan pemuda juga manusia”
Darimana mahasiswa mulai, saya kira mulai menempatkan posisi dan peran mahasiswa pada masa kini tidak dimulai dari Istana presiden atau Gedung DPR MPR sana, melainkan dari kelompok kecil mahasiswa dan pemuda. Posisi Mahasiswa dan Pemuda tidak harus berada di depan perjuangan warga masyarakat, posisi mahasiswa adalah posisi yang sederajat/egalitarian, acapkali ini kurang disadari mahasiswa, lantaran bersemangat, maunya selalu di depan.
Tanpa bersikap pasif Gerakan Mahasiswa Philipina memiliki moto “serve the people”, orientasi gerakan mereka adalah untuk rakyat. Mereka relatif berhasil mempopulerkan gerakan mahasiswa identik dengan gerakan rakyat.
Berbeda halnya Mahasiswa dan pemuda di Indonesia cenderung terbawa arus Globalisasi yang digagas Neoliberal. Globalisasi tentu saja berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap orang muda. Sistem ekonomi pasar bebas dalam kacamata kaum pengusaha sudah jamak berparadigma bahwa kaum muda adalah pasar yang potensial. Orang muda dianggap sebagai pasar untuk membeli produk. Selain itu peran gerakan mahasiswa yang cukup banyak adalah penyedia sumber daya bagi partai politik, situasi ini perlu dikritisi lebih mendalam. Kecenderungan yang nampak, seringkali kader gerakan mahasiswa adalah kader partai politik.
Ada baiknya jika kita mengadopsi dan mempelajari teori oleh Habermas, Filsuf ini pernah mengatakan : “Ketika menginginkan wujud nyata kepedulian ilmu pengetahuan terhadap kemasyarakatan Jika pada masa klasik dan modern ilmu pengetahuan diharuskan bebas dari kepentingan maka sudah saatnya ilmu pengetahuan berpihak pada kemanusiaan.”
Posisi tahun 90 an dan 2000 an mahasiswa dan pemuda cenderung membedakan dirinya dengan golongan warga masyarakat lain. Kegagalan meneruskan gerakan reformasi tidak bisa dilepaskan dari kurang meluasnya gerakan mahasiswa, mereka dianggap gerakan elit. Sementara Golongan Atas kaum profesional, dokter tidak merasa memiliki rasa kebersamaan bergerakan.
Lebih jauh lagi mahasiswa tak mampu memperluas basis massa gerakan terutama golongan bawah kaum buruh dan petani serta kaum miskin kota, semua itu terlihat masih rendah berpartisipasi mencapai perubahan yang dicita-citakan. Mahasiswa mestinya mampu menyerap apa yang ada dalam hati sanubari rakyat. Mahasiswa satu tarikan nafas bersama rakyat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar